IMG_20150502_212826.jpgMALANG KOTA – Mulai hari ini (1/5), pengguna XL di Malang Raya bakal kecewa. Sebab, harga isi ulang pulsa di pedagang eceran bakal melonjak pesat. Untuk pulsa XL nominal Rp 5 ribu yang biasanya dijual dengan harga Rp 6 ribu, dinaikkan harganya oleh pedagang menjadi Rp 9 ribu.

Lalu pulsa isi ulang Rp 10 ribu yang biasanya dihargai Rp 11 ribu, kini naik menjadi Rp 14 ribu. Lalu pulsa Rp 25 ribu naik menjadi Rp 29 ribu, pulsa Rp 50 ribu menjadi Rp 54 ribu, dan pulsa Rp 100 ribu menjadi Rp 104 ribu.

Kenaikan harga pulsa ini bukan atas inisiatif operator XL, yakni PT XL Axiata Tbk. Namun, kenaikan harga isi ulang pulsa ini dilakukan pedagang.

Harga pulsa XL dinaikkan pedagang karena mereka kecewa atas kebijakan manajemen XL. Sebab kebijakan manajemen XL dianggap tak berpihak kepada pedagang kecil.

Ketua Umum Asosiasi Penjual Pulsa Malang Raya David Rusdianto menjelaskan, aksi menaikkan harga pulsa XL merupakan respons atas kebijakan baru manajemen XL tentang distribusi. Saat ini manajemen XL menetapkan kebijakan bahwa jatah voucher isi ulang pulsa untuk pedagang (server) hanya 35 persen, sedangkan untuk distributor adalah 65 persen.

Padahal, sebelumnya jatah untuk voucher untuk pedagang sebanyak 70 persen dan distributor resmi XL hanya mendapatkan kuota 30 persen. Dipangkasnya jatah untuk pedagang itulah yang membuat mereka kecewa.

David melanjutkan, untuk menjadi distributor retail, maka harus menggunakan satu chip khusus untuk bertransaksi melakukan isi ulang pulsa XL. Sementara, yang selama ini banyak terjadi adalah para pedagang pulsa menggunakan multichip alias satu chip bisa digunakan untuk transaksi semua pulsa.

”Selian itu, juga harus ada outlet yang jelas keberadaannya. Selama ini penjual pulsa kan banyak yang tidak memiliki unit usaha, mereka moving saja. Kalau transaksi harus menggunakan chip XL, jelas memberatkan bagi kami. Apalagi alokasi kami saat ini lebih sedikit,” kata David di kantornya, Oasis Reload Jalan Sulfat, Rabu (29/4) lalu.

Dari beberapa alasan itulah, dia dan teman-temannya kemudian bersepakat untuk sekalian menaikkan harga pembelian pulsa XL sebagai bentuk protes kepada manajemen XL. ”Mengikuti hukum pasar saja, saat suplai sedikit, maka harga barang akan menjadi lebih mahal,” sambung David.

Dia meyakinkan, aksi ’boikot’ ini bakal diikuti puluhan ribu pedagang pulsa di Malang Raya. Di bawah Oasis Reload saja sudah terdapat sekitar 6 ribu pedagang pulsa. Belum di bawah server-server besar lainnya. David mengklaim sedikitnya 24 server sudah bersepakat untuk melakukan aksi boikot ini.

Masih menurut David, sebelumnya, pihaknya sudah diajak komunikasi dengan manajemen XL Malang di salah satu rumah makan pekan lalu. Namun pertemuan tersebut tak menemukan kata sepakat. David menilai, secara umum kebijakan ini merugikan konsumen di tingkat bawah. Di sisi lain, masyarakat masih bisa melakukan pembelian pulsa dengan harga normal di modern channel seperti minimarket maupun perbankan.

Frizki RK dari server Dunia Pulsa menambahkan, pihaknya juga turut ambil bagian dalam aksi ’boikot’ tersebut. Di dalam jaringan Dunia Pulsa terdapat sedikitnya 10 ribu agen. ”Ya, per 1 Mei (hari ini) harga pulsa XL akan mengalami kenaikan seperti kesepakatan teman-teman lainnya,” ucap Frizki.

Terpisah, General Manager Sales East I PT XL Axiata Liedya Andayani membenarkan adanya kebijakan baru ini. Isinya, dealer diinstruksikan untuk melakukan pemasaran langsung ke konsumen. Alurnya, dari dealer dilanjutkan ke outlet (distributor resmi XL), dan langsung ke konsumen.

”Secara umum ini memperpendek distribusi kami. Kami menangkap tren masyarakat yang akan makin bergeser ke modern channel (minimarket, perbankan via mobile banking, maupun ATM). Kami mengikuti tren masyarakat yang sekarang mulai bergeser ke transaksi online. Kami mensinkronkan kebutuhan market,” kata Liedya kepada Jawa Pos Radar Malang di Jalan Bandung, kemarin siang.

Liedya mengatakan, hal ini sebagai salah satu langkah XL untuk merapikan jaringan distribusi XL. Meski begitu, dia mengakui jika share atau sumbangan modern channel ke penjualan XL hanya berkisar di angka 15 persen. Sedangkan selebihnya merupakan sumbangan dari pedagang pulsa. ”Namun, kami melihat tren ini ke depannya akan terus lebih besar,” tambahnya.

Di sisi lain, Liedya menampik jika kuota untuk server pulsa lebih kecil dibanding sebelumnya. Dia mengatakan, volume atau slot milik server tetap seperti sebelum pemberlakuan kebijakan baru ini. ”Sekali lagi, kami melihatmodern channel ini tumbuh. Analoginya, jika dulu masyarakat hanya butuh SMS dan telepon, saat ini kan bergeser ke penggunaan data. Itu juga yang sedang kami siapkan untuk distribusi XL ini,” lanjut dia.

Liedya mengatakan, kebijakan ini sebelumnya memang diprediksi akan menimbulkan gejolak di tingkat bawah. Dia juga sudah memprediksi adanya protes di tingkat pedagang. Termasuk juga adanya kemungkinan migrasi pengguna XL ke operator lain. ”Kita believe bahwa transisi ini akan berjalan baik dan membutuhkan waktu yang tidak lama agar pasar kembali normal,” yakinnya.

Sebagai informasi, gejolak seperti ini pernah terjadi beberapa bulan lalu. Yaitu saat para server pulsa melakukan aksi boikot kepada operator Indosat. Aksi boikot tersebut lebih ekstrim lagi karena para server mengancam tidak menjual pulsa Indosat selama empat hari. Di hari ketiga boikot, manajemen Indosat Jatim menemui para server dan meminta menghentikan aksi tersebut. (did/c2/fir)

Source : RadarMalang.Co.Id